|
|
Pendahuluan
Darah
tinggi (tekanan darah sama dengan atau di atas 140/90 mmHg) yang
kebanyakan tidak diketahui sebabnya (hipertensi esensial) merupakan
salah satu dari lima “silent thieves” yang secara diam-diam mencuri
kesehatan kita tanpa kita sadari sampai kemudian timbul komplikasi.
Empat silent thieves lainnya adalah kencing manis atau diabetes,
dislipidemia (kolesterol dan/atau trigliserid tinggi), hiperurisemia
(asam urat tinggi) dan osteoporosis (pengeroposan tulang). Keempat
penyakit ini merupakan gangguan metabolisme, sementara darah tinggi bisa
terjadi karena perubahan pada pembuluh darah dan kekentalan darah
akibat gangguan metabolisme tersebut, khususnya diabetes serta
dislipidemia, selain karena gangguan organ tubuh seperti ginjal serta
kelenjar adrenal. Baik hipertensi esensial maupun hipertensi
sekunder karena gangguan metabolisme atau penyebab lain dapat
dikendalikan dengan diet DASH jika tekanan darah yang diderita belum
terlalu tinggi dan keadaan darah tingginya bersifat sensitif terhadap
asupan garam atau faktor risiko lain seperti dislipidemia.
Diet Rendah Garam
Diet
rendah garam umumnya diterapkan pada pasien darah tinggi yang peka
terhadap pemakaian garam (salt-sensitive hypertension). Akan tetapi,
karena tidak mengetahui pasien mana yang peka garam, umumnya dokter
menyarankan diet rendah garam kepada semua pasien darah tinggi. Diet
tersebut mengandung natrium sekitar 3 gram per hari yang setara dengan
sekitar 7 gram garam dapur (39% garam dapur atau natrium klorida
berdasarkan beratnya merupakan natrium). Angka ini lebih tinggi sedikit
dari daily value untuk orang Amerika yang besarnya 2,4 gram natrium per
hari tetapi lebih rendah daripada asupan rata-rata natrium mereka yang
jumlahnya bisa mencapai 3,6 hingga 4 gram natrium atau sekitar 8 hingga
9 gram garam per hari. Di Indonesia tempat masyarakatnya menyukai
makanan yang “terasa di lidah,” asupan rata-rata garamnya bisa saja
sampai 12 gram per hari dan bahkan pada orang kaya di kota-kota besar
yang menyukai makanan laut dengan pelbagai sausnya (saus tomat, kecap
asin, sambal terasi dll.), mungkin angka tersebut lebih besar lagi.
Untuk menerapkan diet rendah garam yang benar, lihat Tabel “The Rule of 7
S’s.” Semua natrium yang ada di dalam makanan akan diserap masuk
oleh saluran cerna kita. Namun, keseimbangan natrium di dalam darah
diatur oleh ginjal yang akan membuang natrium yang berlebihan. Dalam
tubuh, natrium banyak terdapat di dalam plasma darah dan berfungsi untuk
mengatur permeabilitas sel serta pergerakan cairan, elektrolit,
glukosa, insulin dan asam-asam amino. Dengan demikian, natrium menjadi
unsur pokok dalam pengaturan keseimbangan asam-basa, penghantaran impuls
saraf dan kerja otot. Jika natrium dikonsumsi terlalu berlebihan, maka
akan terjadi rasa haus yang membuat kita banyak minum. Cairan yang kita
minum ini memang mengencerkan natrium di dalam plasma darah, tetapi
sebagai akibatnya, volume natrium dan cairan juga akan meningkat.
Apabila ginjal tidak segera dapat menghilangkan kelebihan cairan dan
natrium dengan segera, maka keadaan ini akan membuat volume darah yang
masuk ke jantung (preload volume) menjadi lebih besar dan dengan
demikian jantung akan memompa lebih kuat. Pada pasien darah tinggi,
pemompaan jantung yang lebih kuat akan menaikkan tekanan darah yang
sudah tinggi itu. Dokter sering menurunkan tekanan darah dengan
memberikan obat peluruh kencing (diuretik) seperti HCT atau furosemid
untuk mengurangi volume darah yang kembali ke jantung. HCT yang harganya
relatif sangat murah kini kembali menjadi salah satu pilihan dokter
dalam pengobatan darah tinggi saat ini karena kerja obat tersebut yang
dianggap cukup efektif dalam menurunkan tekanan darah. Hanya sayangnya,
pemberian HCT dan furosemid secara terus-menerus berisiko menghilangkan
cairan dan kalium sehingga kepada pasien perlu dianjurkan agar cukup
minum di samping mendapat suplemen kalium dalam jumlah yang tepat.
Makanan Harus Mengandung Cukup Kalium
Jika
natrium banyak terdapat dalam plasma darah, maka kalium terutama
ditemukan di dalam sel. Kalium berada dengan perbandingan terbalik
terhadap natrium dan sama-sama bekerja untuk mempertahankan keseimbangan
cairan, elektrolit, membantu metabolisme serta mengendalikan kerja otot
kerangka. Jika asupan kalium meningkat, ekskresi natrium akan
bertambah. Kerja kalium inilah yang mungkin membuat tekanan darah
menurun ketika kita mengonsumsi makanan nabati yang kaya akan kalium
seperti minum air kacang hijau atau jus sayur/buah seperti ketimun dan
belimbing. Pasien yang menghendaki perbaikan citarasa pada makanan
rendah garam dapat menggunakan garam pengganti yang mengandung kalium
klorida. AKG untuk kalium diperkirakan 2000 mg per hari kendati sebagian
pakar menganjurkan angka 3500 mg per hari mengingat peranan kalium yang
protektif terhadap tekanan darah tinggi. Barangkali pertimbangan bahwa
ginjal tidak bisa mempertahankan kalium seefisien natrium merupakan
alasan lain untuk pemberian kalium dengan jumlah di atas AKG. Namun
demikian, penggunaan kalium klorida dalam bentuk suplemen sebaiknya
tidak melebihi 500 mg per hari atau yang lebih tepat lagi, pemakaian
suplemen ini harus sesuai dengan petunjuk dokter karena dalam sayuran
dan buah yang kita makan juga banyak mengandung kalium. Kadar kalium
yang berlebihan dalam darah (hiperkalemia) dapat menghentikan kerja
jantung serta mengganggu kerja ginjal. Suplemen kalium klorida dalam
bentuk serbuk yang akan digunakan sebagai pengganti garam harus
dilarutkan dahulu dalam air dan tidak boleh dikonsumsi dalam bentuk
serbuk karena dapat menimbulkan luka-luka pada usus.
Kalsium vs Magnesium dalam Penurunan Tekanan Darah
Kadang-kadang
suntikan kalsium glukonas atau kalsium klorida digunakan dokter untuk
menaikkan tekanan darah pada pasien-pasien dengan penurunan tekanan
darah akibat berkurangnya kekuatan kontraksi otot jantung. Sebaliknya,
pada pasien-pasien dengan risiko kerusakan otot jantung, dokter mungkin
memberikan suntikan magnesium sulfat untuk mengurangi kerja jantung
sehingga kerusakan jantungnya tidak semakin parah dan gangguan irama
jantung tidak terjadi. Karena itu, magnesium bisa dianggap sebagai
inhibitor fisiologis kalsium. Kombinasi kedua mineral ini bersama
kalium kadang-kadang dipakai oleh sejumlah dokter sebagai suplemen untuk
mengendalikan tekanan darah dengan perkiraan bahwa asupan kalium,
kalsium dan magnesium yang lebih tinggi akan menurunkan tekanan darah.
Namun, pemberian suplemen kalsium untuk menurunkan tekanan darah masih
kontroversial. Dr Martinez dari Universitas California mengatakan
pemberian suplemen kalsium mungkin bermanfaat bagi penderita darah
tinggi yang peka garam dengan asupan kalsium rendah. Menurut Dr
Martinez, asupan kalsium yang rendah akan meningkatkan keinginan pasien
untuk mengonsumsi garam dan garam itulah yang akan menaikkan tekanan
darah. Walaupun demikian, hasil-hasil semua penelitian terhadap khasiat
kombinasi ketiga mineral tersebut dalam bentuk pil bagi pasien-pasien
darah tinggi ternyata tidak konsisten. Kalsium terutama ditemukan
dalam makanan hewani, khususnya susu dan bone meal seperti ikan kecil
yang dimakan bersama tulangnya; sedangkan magnesium banyak terdapat
dalam klorofil pada sayuran berwarna hijau. Klorofil merupakan senyawa
yang rumus bangunnya sama seperti hemoglobin dan hanya berbeda pada
intinya, yaitu hemoglobin berintikan besi yang membuat darah kita
berwarna merah sementara klorofil berintikan magnesium yang membuat daun
berwarna hijau. Jika hemoglobin bertugas untuk mengikat oksigen dan
membawanya dari paru-paru ke seluruh sel tubuh, maka klorofil berfungsi
bagi proses pertukaran karbon dioksida menjadi oksigen yang kita kenal
dengan istilah asimilasi. Peningkatan asupan magnesium dari klorofil
dengan cara mengonsumsi sayuran dan buah-buah berwarna hijau seperti
ketimun dan melon hingga lebih dari 5 takaran saji per hari diyakini
dapat membantu menurunkan tekanan darah.
Peranan Asam Lemak Tak-Jenuh
Asam
lemak tak jenuh terdiri atas PUFA (polyunsaturated fatty acids; asam
lemak tak-jenuh jamak) yang meliputi asam lemak omega-3 serta omega-6
dan MUFA (monounsaturated fatty acids; asam lemak tak jenuh tunggal)
yang terdiri atas asam lemak omega-9. EPA dan DHA yang tergolong ke
dalam asam lemak omega-3 sudah terbukti lewat penelitian sebagai jenis
asam lemak yang memiliki peranan untuk mencegah gangguan irama jantung,
mengurangi risiko penjendalan darah serta pengatupan pembuluh darah dan
menurunkan kadar kolesterol jahat. Keadaan inilah yang mungkin dijadikan
alasan bagi sebagian orang untuk meyakini bahwa omega-3 dapat membantu
menurunkan tekanan darah dan mencegah kenaikan kadar kolesterol jahat
yang berisiko untuk terjadinya arterosklerosis. Namun, pemakaian omega-3
tanpa diimbangi dengan omega-6 (asam linoleat—salah satu asam lemak
esensial yang dalam tubuh dapat digunakan untuk membentuk asam
arakidonat) dalam perbandingan yang tepat juga berisiko untuk
menimbulkan perdarahan. Mengenai peranan asam lemak omega-9 seperti
asam oleat yang banyak terdapat dalam minyak zaitun, Dr Bawazier dan Dr
Siregar dari Sub Bagian Ginjal & Hipertensi FKUI/RSUPN-CM Jakarta
dalam artikelnya tentang minyak zaitun dan hipertensi mengatakan bahwa
pemakaian kombinasi minyak zaitun extra-virgin yang banyak mengandung
MUFA dengan minyak bunga matahari yang banyak mengandung PUFA dapat
mengurangi kebutuhan dosis obat antihipertensi per hari. Penurunan
tekanan darah oleh minyak zaitun diperkirakan terjadi karena pengaruh
antioksidan polifenol yang mencegah pembentukan LDL
kolesterol-teroksidasi sehingga kemungkinan terjadinya aterosklerosis
dapat dikurangi. Penyebab lain mungkin berupa peningkatan nitric oxide
yang merupakan relaksan otot polos pembuluh darah sebagai akibat dari
pemberian antioksidan seperti vitamin E, C, glutation dan polifenol
(zaitun). Karena minyak zaitun banyak mengandung MUFA yang akan
lengket pada kuali atau frying pan jika dipakai untuk menggoreng, maka
seyogyanya minyak ini digunakan sebagai dressing pada salad atau steak,
atau ditambahkan pada masakan setelah selesai dimasak. Sedangkan minyak
yang banyak mengandung omega-6 seperti minyak kedelai atau minyak jagung
dapat dipakai untuk menumis sayuran. Asam lemak omega-3 sendiri dapat
kita peroleh dari ikan, khususnya ikan laut, asalkan dalam pemasakannya,
ikan itu tidak digoreng. Cara memasak ikan yang terbaik adalah dengan
merebus, menanak dan memepesnya (memanggang dengan daun pisang). Untuk
mendapatkan omega-3, -6 dan -9 dengan perbandingan yang tepat dari
makanan sehari-hari, kita dapat mengonsumsi salad/steak yang diberi 1
atau 2 sendok makan minyak zaitun setiap hari, sayuran yang ditumis
dengan minyak jagung atau kedelai, dan lauk ikan sebanyak dua atau tiga
kali dalam seminggu. Penggunaan minyak sawit untuk menumis sayuran dapat
pula dilakukan karena sekalipun ada yang menganggap minyak ini sebagai
minyak jenuh (SAFA; saturated fatty acid) namun pada minyak sawit olahan
kita juga masih terkandung asam lemak tak-jenuh MUFA sampai sebanyak
40%.
DASH sebagai diet alternatif
Ketika mempelajari pola
makan penduduk mediteranean, Lorgeril mendapatkan bahwa pola makan yang
kaya akan sereal utuh, sayuran dan buah, ikan dengan pengggunaan
margarin dari minyak zaitun atau kanola ternyata mengurangi insidensi
serangan jantung koroner akibat aterosklerosis. Lorgeril melakukan
penelitian tersebut dengan membandingkan antara kelompok yang mengikuti
pola makan mediteranean dan kelompok yang mengikuti pola makan orang
barat. Dari hasil perbandingan inilah muncul diet DASH seperti yang
diusulkan oleh para pakar gizi di negara Barat. Mereka menganjurkan diet
tersebut untuk mengendalikan tekanan darah sekaligus kadar
kolesterol-LDL yang jahat karena jenis kolesterol ini dianggap sebagai
asal mula penyakit hipertensi dan jantung koroner. DASH adalah
singkatan dari Dietary Approaches to Stop Hypertension. Diet ini
memiliki kandungan total lemak yang rendah dan merupakan diet rendah
kolesterol serta lemak jenuh dan rendah garam. Selain itu, diet DASH
akan memberikan lebih banyak kalium, magnesium, kalsium dan serat
pangan. Dalam diet ini, margarin yang digunakan berasal dari minyak
zaitun atau minyak kanola yang kaya akan MUFA atau asam lemak omega-9.
Sayuran dan buah dikonsumsi sampai lebih dari 5 takaran saji per hari
sementara makanan sumber hidratarangnya terutama dipilih dari sereal dan
biji-bijian (grain) yang utuh. Dalam memenuhi kebutuhan protein, pasien
yang menerapkan diet DASH harus lebih mengutamakan protein dari ikan
dan kacang-kacangan, buncis serta tanaman polong (seeds, nuts, peas and
beans) ketimbang dari daging. Untuk mengetahui perbedaan antara diet
DASH dan diet rata-rata orang Amerika, kita dapat melihat tabel
karakteristik diet DASH.
Kesimpulan
Selain mematuhi diet
di atas, tentu saja pasien darah tinggi perlu mengikuti beberapa
pendekatan lain yang dapat dikelompokkan ke dalam terapi perubahan gaya
hidup (life-style changes therapy). Pendekatan tersebut adalah: 1.
Penghentian kebiasaan merokok karena rokok dapat menaikkan tekanan darah
di samping merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit jantung
koroner. Pasien darah tinggi juga tidak dianjurkan untuk mengonsumsi
kopi atau minuman penambah energi secara berlebihan karena kafein yang
terkandung di dalamnya dapat memicu kerja jantung yang selanjutnya akan
menaikkan tekanan darah. 2. Pengurangan berat badan jika pasien bertubuh gemuk. 3.
Berolahraga aerobik yang tepat selama 30 hingga 45 menit per hari.
Olahraga aerobik yang bukan bersifat pertandingan seperti berenang
perlahan, jogging, senam ringan, bersepeda dan dansa aerobik merupakan
jenis olahraga yang cocok bagi pasien darah tinggi. Yang penting, pasien
harus berkeringat, tidak begitu terengah-engah dan merasa segar sehabis
olahraga. 4. Keseimbangan antara bekerja, olahraga dan istirahat
juga perlu diperhatikan. Kebiasaan yang melelahkan seperti banyak
bergadang dan lembur tanpa cukup istirahat berpotensi menaikkan tekanan
darah. Bekerja dan berolahraga dalam udara yang segar dan lingkungan
yang bersih juga sangat penting karena udara yang tercemar dengan
radikal bebas berpotensi mengganggu pembuluh darah lewat reaksi
superoksidasi sehingga pada akhirnya akan timbul darah tinggi. 5.
Pendekatan relaksasi, meditasi dan spiritual juga tidak boleh dilupakan
karena jenis terapi ini terbukti dapat menurunkan tekanan darah,
khususnya pada pasien-pasien hipertensi esensial yang merasa stres
dengan hiruk pikuk di kota-kota besar. Beberapa pasien hipertensi yang
berasal dari kota besar ternyata dapat menurunkan tekanan darahnya
setelah mereka tinggal di pesantren atau tempat ziarah pada kota-kota
kecil atau desa yang tenang dan melaksanakan ibadah sesuai dengan iman
kepercayaan mereka.
Akhirnya keberhasilan untuk mengendalikan
darah tinggi akan bergantung pada diri kita sendiri yang memutuskan
apakah kita akan memeriksakan tekanan darah secara teratur, meminum
obat-obat antihipertensi sesuai dengan anjuran dokter, mematuhi pola
makan yang benar dan mengikuti gaya hidup sederhana serta sehat seperti
dilakukan oleh nenek moyang kita. Kita tahu bahwa kakek dan nenek kita
memiliki usia yang rata-rata lebih panjang daripada usia manusia di
jaman modern ini kendati pada saat itu, pelayanan medis tidak sebaik
pada saat ini.
|
|
|
|
| The Rule of 7 S's
|
|
| Karakteristik Diet DASH |
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar