You are welcome to my blog!

You are welcome to my blog!
Mari nikmati isi blog ini dan saling bertukar informasi apapun juga sebebasnya...

Kamis, 03 Februari 2011

DASH: Diet Alternatif pada Hipertensi

Oleh andry Hartono | 07 May 2009 10:39 WIB | 1,037 views

Pendahuluan

Darah tinggi (tekanan darah sama dengan atau di atas 140/90 mmHg) yang kebanyakan tidak diketahui sebabnya (hipertensi esensial) merupakan salah satu dari lima “silent thieves” yang secara diam-diam mencuri kesehatan kita tanpa kita sadari sampai kemudian timbul komplikasi. Empat silent thieves lainnya adalah kencing manis atau diabetes, dislipidemia (kolesterol dan/atau trigliserid tinggi), hiperurisemia (asam urat tinggi) dan osteoporosis (pengeroposan tulang). Keempat penyakit ini merupakan gangguan metabolisme, sementara darah tinggi bisa terjadi karena perubahan pada pembuluh darah dan kekentalan darah akibat gangguan metabolisme tersebut, khususnya diabetes serta dislipidemia, selain karena gangguan organ tubuh seperti ginjal serta kelenjar adrenal.
Baik hipertensi esensial maupun hipertensi sekunder karena gangguan metabolisme atau penyebab lain dapat dikendalikan dengan diet DASH jika tekanan darah yang diderita belum terlalu tinggi dan keadaan darah tingginya bersifat sensitif terhadap asupan garam atau faktor risiko lain seperti dislipidemia.


Diet Rendah Garam

Diet rendah garam umumnya diterapkan pada pasien darah tinggi yang peka terhadap pemakaian garam (salt-sensitive hypertension). Akan tetapi, karena tidak mengetahui pasien mana yang peka garam, umumnya dokter menyarankan diet rendah garam kepada semua pasien darah tinggi. Diet tersebut mengandung natrium sekitar 3 gram per hari yang setara dengan sekitar 7 gram garam dapur (39% garam dapur atau natrium klorida berdasarkan beratnya merupakan natrium). Angka ini lebih tinggi sedikit dari daily value untuk orang Amerika yang besarnya 2,4 gram natrium per hari tetapi lebih rendah daripada asupan rata-rata natrium mereka yang jumlahnya bisa mencapai 3,6 hingga 4 gram natrium atau sekitar 8 hingga 9 gram garam per hari. Di Indonesia tempat masyarakatnya menyukai makanan yang “terasa di lidah,” asupan rata-rata garamnya bisa saja sampai 12 gram per hari dan bahkan pada orang kaya di kota-kota besar yang menyukai makanan laut dengan pelbagai sausnya (saus tomat, kecap asin, sambal terasi dll.), mungkin angka tersebut lebih besar lagi. Untuk menerapkan diet rendah garam yang benar, lihat Tabel “The Rule of 7 S’s.”
Semua natrium yang ada di dalam makanan akan diserap masuk oleh saluran cerna kita. Namun, keseimbangan natrium di dalam darah diatur oleh ginjal yang akan membuang natrium yang berlebihan. Dalam tubuh, natrium banyak terdapat di dalam plasma darah dan berfungsi untuk mengatur permeabilitas sel serta pergerakan cairan, elektrolit, glukosa, insulin dan asam-asam amino. Dengan demikian, natrium menjadi unsur pokok dalam pengaturan keseimbangan asam-basa, penghantaran impuls saraf dan kerja otot. Jika natrium dikonsumsi terlalu berlebihan, maka akan terjadi rasa haus yang membuat kita banyak minum. Cairan yang kita minum ini memang mengencerkan natrium di dalam plasma darah, tetapi sebagai akibatnya, volume natrium dan cairan juga akan meningkat. Apabila ginjal tidak segera dapat menghilangkan kelebihan cairan dan natrium dengan segera, maka keadaan ini akan membuat volume darah yang masuk ke jantung (preload volume) menjadi lebih besar dan dengan demikian jantung akan memompa lebih kuat. Pada pasien darah tinggi, pemompaan jantung yang lebih kuat akan menaikkan tekanan darah yang sudah tinggi itu.
Dokter sering menurunkan tekanan darah dengan memberikan obat peluruh kencing (diuretik) seperti HCT atau furosemid untuk mengurangi volume darah yang kembali ke jantung. HCT yang harganya relatif sangat murah kini kembali menjadi salah satu pilihan dokter dalam pengobatan darah tinggi saat ini karena kerja obat tersebut yang dianggap cukup efektif dalam menurunkan tekanan darah. Hanya sayangnya, pemberian HCT dan furosemid secara terus-menerus berisiko menghilangkan cairan dan kalium sehingga kepada pasien perlu dianjurkan agar cukup minum di samping mendapat suplemen kalium dalam jumlah yang tepat.

Makanan Harus Mengandung
Cukup Kalium

Jika natrium banyak terdapat dalam plasma darah, maka kalium terutama ditemukan di dalam sel. Kalium berada dengan perbandingan terbalik terhadap natrium dan sama-sama bekerja untuk mempertahankan keseimbangan cairan, elektrolit, membantu metabolisme serta mengendalikan kerja otot kerangka. Jika asupan kalium meningkat, ekskresi natrium akan bertambah. Kerja kalium inilah yang mungkin membuat tekanan darah menurun ketika kita mengonsumsi makanan nabati yang kaya akan kalium seperti minum air kacang hijau atau jus sayur/buah seperti ketimun dan belimbing.
Pasien yang menghendaki perbaikan citarasa pada makanan rendah garam dapat menggunakan garam pengganti yang mengandung kalium klorida. AKG untuk kalium diperkirakan 2000 mg per hari kendati sebagian pakar menganjurkan angka 3500 mg per hari mengingat peranan kalium yang protektif terhadap tekanan darah tinggi. Barangkali pertimbangan bahwa ginjal tidak bisa mempertahankan kalium seefisien natrium merupakan alasan lain untuk pemberian kalium dengan jumlah di atas AKG. Namun demikian, penggunaan kalium klorida dalam bentuk suplemen sebaiknya tidak melebihi 500 mg per hari atau yang lebih tepat lagi, pemakaian suplemen ini harus sesuai dengan petunjuk dokter karena dalam sayuran dan buah yang kita makan juga banyak mengandung kalium. Kadar kalium yang berlebihan dalam darah (hiperkalemia) dapat menghentikan kerja jantung serta mengganggu kerja ginjal. Suplemen kalium klorida dalam bentuk serbuk yang akan digunakan sebagai pengganti garam harus dilarutkan dahulu dalam air dan tidak boleh dikonsumsi dalam bentuk serbuk karena dapat menimbulkan luka-luka pada usus.

Kalsium vs Magnesium dalam
Penurunan Tekanan Darah

Kadang-kadang suntikan kalsium glukonas atau kalsium klorida digunakan dokter untuk menaikkan tekanan darah pada pasien-pasien dengan penurunan tekanan darah akibat berkurangnya kekuatan kontraksi otot jantung. Sebaliknya, pada pasien-pasien dengan risiko kerusakan otot jantung, dokter mungkin memberikan suntikan magnesium sulfat untuk mengurangi kerja jantung sehingga kerusakan jantungnya tidak semakin parah dan gangguan irama jantung tidak terjadi. Karena itu, magnesium bisa dianggap sebagai inhibitor fisiologis kalsium.
Kombinasi kedua mineral ini bersama kalium kadang-kadang dipakai oleh sejumlah dokter sebagai suplemen untuk mengendalikan tekanan darah dengan perkiraan bahwa asupan kalium, kalsium dan magnesium yang lebih tinggi akan menurunkan tekanan darah. Namun, pemberian suplemen kalsium untuk menurunkan tekanan darah masih kontroversial. Dr Martinez dari Universitas California mengatakan pemberian suplemen kalsium mungkin bermanfaat bagi penderita darah tinggi yang peka garam dengan asupan kalsium rendah. Menurut Dr Martinez, asupan kalsium yang rendah akan meningkatkan keinginan pasien untuk mengonsumsi garam dan garam itulah yang akan menaikkan tekanan darah. Walaupun demikian, hasil-hasil semua penelitian terhadap khasiat kombinasi ketiga mineral tersebut dalam bentuk pil bagi pasien-pasien darah tinggi ternyata tidak konsisten.
Kalsium terutama ditemukan dalam makanan hewani, khususnya susu dan bone meal seperti ikan kecil yang dimakan bersama tulangnya; sedangkan magnesium banyak terdapat dalam klorofil pada sayuran berwarna hijau. Klorofil merupakan senyawa yang rumus bangunnya sama seperti hemoglobin dan hanya berbeda pada intinya, yaitu hemoglobin berintikan besi yang membuat darah kita berwarna merah sementara klorofil berintikan magnesium yang membuat daun berwarna hijau. Jika hemoglobin bertugas untuk mengikat oksigen dan membawanya dari paru-paru ke seluruh sel tubuh, maka klorofil berfungsi bagi proses pertukaran karbon dioksida menjadi oksigen yang kita kenal dengan istilah asimilasi. Peningkatan asupan magnesium dari klorofil dengan cara mengonsumsi sayuran dan buah-buah berwarna hijau seperti ketimun dan melon hingga lebih dari 5 takaran saji per hari diyakini dapat membantu menurunkan tekanan darah.


Peranan Asam Lemak Tak-Jenuh

Asam lemak tak jenuh terdiri atas PUFA (polyunsaturated fatty acids; asam lemak tak-jenuh jamak) yang meliputi asam lemak omega-3 serta omega-6 dan MUFA (monounsaturated fatty acids; asam lemak tak jenuh tunggal) yang terdiri atas asam lemak omega-9. EPA dan DHA yang tergolong ke dalam asam lemak omega-3 sudah terbukti lewat penelitian sebagai jenis asam lemak yang memiliki peranan untuk mencegah gangguan irama jantung, mengurangi risiko penjendalan darah serta pengatupan pembuluh darah dan menurunkan kadar kolesterol jahat. Keadaan inilah yang mungkin dijadikan alasan bagi sebagian orang untuk meyakini bahwa omega-3 dapat membantu menurunkan tekanan darah dan mencegah kenaikan kadar kolesterol jahat yang berisiko untuk terjadinya arterosklerosis. Namun, pemakaian omega-3 tanpa diimbangi dengan omega-6 (asam linoleat—salah satu asam lemak esensial yang dalam tubuh dapat digunakan untuk membentuk asam arakidonat) dalam perbandingan yang tepat juga berisiko untuk menimbulkan perdarahan.
Mengenai peranan asam lemak omega-9 seperti asam oleat yang banyak terdapat dalam minyak zaitun, Dr Bawazier dan Dr Siregar dari Sub Bagian Ginjal & Hipertensi FKUI/RSUPN-CM Jakarta dalam artikelnya tentang minyak zaitun dan hipertensi mengatakan bahwa pemakaian kombinasi minyak zaitun extra-virgin yang banyak mengandung MUFA dengan minyak bunga matahari yang banyak mengandung PUFA dapat mengurangi kebutuhan dosis obat antihipertensi per hari. Penurunan tekanan darah oleh minyak zaitun diperkirakan terjadi karena pengaruh antioksidan polifenol yang mencegah pembentukan LDL kolesterol-teroksidasi sehingga kemungkinan terjadinya aterosklerosis dapat dikurangi. Penyebab lain mungkin berupa peningkatan nitric oxide yang merupakan relaksan otot polos pembuluh darah sebagai akibat dari pemberian antioksidan seperti vitamin E, C, glutation dan polifenol (zaitun).
Karena minyak zaitun banyak mengandung MUFA yang akan lengket pada kuali atau frying pan jika dipakai untuk menggoreng, maka seyogyanya minyak ini digunakan sebagai dressing pada salad atau steak, atau ditambahkan pada masakan setelah selesai dimasak. Sedangkan minyak yang banyak mengandung omega-6 seperti minyak kedelai atau minyak jagung dapat dipakai untuk menumis sayuran. Asam lemak omega-3 sendiri dapat kita peroleh dari ikan, khususnya ikan laut, asalkan dalam pemasakannya, ikan itu tidak digoreng. Cara memasak ikan yang terbaik adalah dengan merebus, menanak dan memepesnya (memanggang dengan daun pisang). Untuk mendapatkan omega-3, -6 dan -9 dengan perbandingan yang tepat dari makanan sehari-hari, kita dapat mengonsumsi salad/steak yang diberi 1 atau 2 sendok makan minyak zaitun setiap hari, sayuran yang ditumis dengan minyak jagung atau kedelai, dan lauk ikan sebanyak dua atau tiga kali dalam seminggu. Penggunaan minyak sawit untuk menumis sayuran dapat pula dilakukan karena sekalipun ada yang menganggap minyak ini sebagai minyak jenuh (SAFA; saturated fatty acid) namun pada minyak sawit olahan kita juga masih terkandung asam lemak tak-jenuh MUFA sampai sebanyak 40%.

DASH sebagai diet alternatif

Ketika mempelajari pola makan penduduk mediteranean, Lorgeril mendapatkan bahwa pola makan yang kaya akan sereal utuh, sayuran dan buah, ikan dengan pengggunaan margarin dari minyak zaitun atau kanola ternyata mengurangi insidensi serangan jantung koroner akibat aterosklerosis. Lorgeril melakukan penelitian tersebut dengan membandingkan antara kelompok yang mengikuti pola makan mediteranean dan kelompok yang mengikuti pola makan orang barat. Dari hasil perbandingan inilah muncul diet DASH seperti yang diusulkan oleh para pakar gizi di negara Barat. Mereka menganjurkan diet tersebut untuk mengendalikan tekanan darah sekaligus kadar kolesterol-LDL yang jahat karena jenis kolesterol ini dianggap sebagai asal mula penyakit hipertensi dan jantung koroner.
DASH adalah singkatan dari Dietary Approaches to Stop Hypertension. Diet ini memiliki kandungan total lemak yang rendah dan merupakan diet rendah kolesterol serta lemak jenuh dan rendah garam. Selain itu, diet DASH akan memberikan lebih banyak kalium, magnesium, kalsium dan serat pangan. Dalam diet ini, margarin yang digunakan berasal dari minyak zaitun atau minyak kanola yang kaya akan MUFA atau asam lemak omega-9. Sayuran dan buah dikonsumsi sampai lebih dari 5 takaran saji per hari sementara makanan sumber hidratarangnya terutama dipilih dari sereal dan biji-bijian (grain) yang utuh. Dalam memenuhi kebutuhan protein, pasien yang menerapkan diet DASH harus lebih mengutamakan protein dari ikan dan kacang-kacangan, buncis serta tanaman polong (seeds, nuts, peas and beans) ketimbang dari daging. Untuk mengetahui perbedaan antara diet DASH dan diet rata-rata orang Amerika, kita dapat melihat tabel karakteristik diet DASH.

Kesimpulan

Selain mematuhi diet di atas, tentu saja pasien darah tinggi perlu mengikuti beberapa pendekatan lain yang dapat dikelompokkan ke dalam terapi perubahan gaya hidup (life-style changes therapy). Pendekatan tersebut adalah:
1. Penghentian kebiasaan merokok karena rokok dapat menaikkan tekanan darah di samping merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit jantung koroner. Pasien darah tinggi juga tidak dianjurkan untuk mengonsumsi kopi atau minuman penambah energi secara berlebihan karena kafein yang terkandung di dalamnya dapat memicu kerja jantung yang selanjutnya akan menaikkan tekanan darah.
2. Pengurangan berat badan jika pasien bertubuh gemuk.
3. Berolahraga aerobik yang tepat selama 30 hingga 45 menit per hari. Olahraga aerobik yang bukan bersifat pertandingan seperti berenang perlahan, jogging, senam ringan, bersepeda dan dansa aerobik merupakan jenis olahraga yang cocok bagi pasien darah tinggi. Yang penting, pasien harus berkeringat, tidak begitu terengah-engah dan merasa segar sehabis olahraga.
4. Keseimbangan antara bekerja, olahraga dan istirahat juga perlu diperhatikan. Kebiasaan yang melelahkan seperti banyak bergadang dan lembur tanpa cukup istirahat berpotensi menaikkan tekanan darah. Bekerja dan berolahraga dalam udara yang segar dan lingkungan yang bersih juga sangat penting karena udara yang tercemar dengan radikal bebas berpotensi mengganggu pembuluh darah lewat reaksi superoksidasi sehingga pada akhirnya akan timbul darah tinggi.
5. Pendekatan relaksasi, meditasi dan spiritual juga tidak boleh dilupakan karena jenis terapi ini terbukti dapat menurunkan tekanan darah, khususnya pada pasien-pasien hipertensi esensial yang merasa stres dengan hiruk pikuk di kota-kota besar. Beberapa pasien hipertensi yang berasal dari kota besar ternyata dapat menurunkan tekanan darahnya setelah mereka tinggal di pesantren atau tempat ziarah pada kota-kota kecil atau desa yang tenang dan melaksanakan ibadah sesuai dengan iman kepercayaan mereka.

Akhirnya keberhasilan untuk mengendalikan darah tinggi akan bergantung pada diri kita sendiri yang memutuskan apakah kita akan memeriksakan tekanan darah secara teratur, meminum obat-obat antihipertensi sesuai dengan anjuran dokter, mematuhi pola makan yang benar dan mengikuti gaya hidup sederhana serta sehat seperti dilakukan oleh nenek moyang kita. Kita tahu bahwa kakek dan nenek kita memiliki usia yang rata-rata lebih panjang daripada usia manusia di jaman modern ini kendati pada saat itu, pelayanan medis tidak sebaik pada saat ini.
 
The Rule of 7 S's

Karakteristik Diet DASH


















http://www.ifk-untar.org/Arsip.aspx?i=156

Tidak ada komentar:

Posting Komentar